LUBUKLINGGAU, LINTASSRIWIJAYA.COM– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, hingga September 2026 tercatat mencapai 57 kejadian. Petugas mengaku masih menghadapi kendala keterbatasan armada dalam menangani kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah.
Kabid Penanggulangan Bencana DPKPPB Lubuklinggau, Suryo Amrinata, mengatakan sepanjang September 2026 telah terjadi 35 kejadian karhutla.
"Untuk bulan Agustus terhitung 19, kemudian September ini ada 35 kejadian, jadi totalnya kalau dihitung sejak bulan Mei ada 57 kejadian," katanya, Selasa (15/9/2026).
Menurut Suryo, sebagian besar kejadian karhutla di Lubuklinggau memiliki luasan relatif kecil. Bahkan, sejumlah titik kebakaran merupakan tempat sampah yang dibakar warga dan ditinggalkan dalam kondisi masih menyala.
"Meskipun begitu lokasinya kecil-kecil dan banyak di tempat-tempat sampah yang dibakar orang, tapi itu tetap kita masukkan ke dalam data kejadian," ujarnya.
Suryo menyebut kebakaran di tempat sampah diduga berasal dari bekas pembakaran yang tidak benar-benar dipadamkan. Api yang masih tersisa kemudian berpotensi merembet ke area sekitar.
"Kalau yang di tempat sampah itu sepertinya ada bekas bakar sampah yang ditinggal, atau memang bekas bakaran ternyata masih ada apinya karena tidak disiram," jelasnya.
Sementara itu, untuk lahan mineral atau lahan kering, mayoritas kebakaran terjadi di sepanjang pinggir jalan. Kondisi tersebut membuat pihaknya menduga sebagian kebakaran dilakukan dengan sengaja.
"Untuk lahan mineral atau kering, kebanyakan kejadiannya di pinggir jalan jadi dugaannya kesengajaan masyarakat. Meskipun begitu ada juga yang kejadian di dalam hutan, tapi mayoritas di pinggir jalan," katanya.
Suryo membeberkan, total luas lahan yang terbakar akibat karhutla di Lubuklinggau diperkirakan mencapai sekitar 23 hektare.
"Kalau hitungannya kurang lebih sekitar 23 hektare karena kejadian banyak yang kecil-kecil seperti 0,1 dan 0,2. Kalau yang besar itu salah satunya di belakang Terminal Petanang sampai sekitar 4 hektare," ungkapnya.
Ia mengatakan Kecamatan Lubuklinggau Utara I menjadi wilayah yang paling sering mengalami karhutla sekaligus memiliki luasan lahan terbakar paling besar.
"Kalau yang paling sering terjadi dan paling luas saat ini di Kecamatan Lubuklinggau Utara I. Salah satunya di GOR dan di Jalan Poros ke Siring Agung, kemudian jalur ke Taba Baru itu lumayan. Kemudian di Kelurahan Jogoboyo juga sering," ungkapnya.
"Sedangkan kebakaran di wilayah pusat kota seperti Lubuklinggau Timur dan Barat rata-rata memiliki luasan lebih kecil, yakni sekitar 0,1 - 0,2 hektare," sambungnya.
Suryo mengatakan, karhutla yang terjadi biasanya berlangsung secara bersamaan. Kondisi tersebut membuat armada pemadam harus dibagi untuk menangani sejumlah titik kebakaran.
"Kalau kemarin ada empat kejadian karhutla serentak. Kalau untuk hari ini (15/9/2026) terjadi serentak di dekat HMI yang di Taba Pingin, kemudian Waringin, kemudian Ulak Surung dekat Budi Utomo, dan juga di Tempat Nanan. Rata-rata kejadiannya pas siang hari," katanya.
Banyaknya kejadian yang berlangsung secara bersamaan membuat masyarakat terkadang menilai petugas terlambat tiba di lokasi.
"Karena hal ini armada kami jadi terbagi sehingga terlihat seperti terlambat, padahal kejadiannya serentak. Padahal armada sedang dibagi untuk menangani beberapa titik kebakaran sekaligus," jelasnya.
Ia mengatakan, saat ini pihaknya hanya memiliki lima armada. Namun, seluruh armada tersebut tidak dapat dikerahkan sekaligus untuk menangani karhutla karena sebagian harus tetap disiagakan untuk mengantisipasi kebakaran rumah maupun keadaan darurat lainnya.
"Armada ada lima tapi tidak semuanya bisa turun karena harus ada dua yang standby. Satu di pos induk dan satu di pos lain untuk antisipasi kebakaran rumah. Kalau tidak nanti tidak bisa memadamkan itu," ujarnya.
"Jadi untuk karhutla ini tiga sampai empat armada yang disiapkan, kemudian ada satu armada yang harus standby," tuturnya. *
#Lubuklinggau #Karhutla #KarhutlaLubuklinggau #KebakaranHutan #KebakaranLahan #SumateraSelatan #LubuklinggauUtara #DPKPPB #LintasSriwijaya
