LUBUKLINGGAU, LINTASSRIWIJAYA.COM– Ratusan kepala keluarga (KK) di Kelurahan Karya Bakti, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, mengalami krisis air bersih.
Kondisi tersebut telah berlangsung sejak 2014. Warga mengeluhkan aliran air dari PDAM Tirta Bukit Sulap yang tidak mengalir ke sejumlah permukiman, khususnya di wilayah RT-01.
Direktur PDAM Tirta Bukit Sulap Kota Lubuklinggau, Suhada, mengatakan persoalan tersebut terjadi karena aliran air PDAM belum mampu menjangkau sejumlah wilayah yang berada di dataran tinggi.
Menurutnya, air PDAM sebenarnya masih mengalir di Kelurahan Karya Bakti. Namun, posisi wilayah RT-01 yang cukup tinggi membuat tekanan air tidak mampu mencapai permukiman warga.
"Air PDAM mengalir di Kelurahan Karya Bakti. Memang untuk wilayah RT-01 itu sangat tinggi sehingga air PDAM tidak bisa mencapai ke wilayah sana. Tapi di dataran tinggi yang lain masih bisa dicapai dan mengalir ke rumah warga," katanya, Jumat (4/9/2026).
Suhada menjelaskan, kondisi tersebut terjadi karena sistem distribusi air PDAM masih menggunakan sistem gravitasi. Untuk mengatasi persoalan tersebut, diperlukan pembangunan booster guna meningkatkan tekanan aliran air.
"Untuk bisa mencapai wilayah RT-01, Kelurahan Karya Bakti, perlu dibangun sebuah booster yang berfungsi untuk menambah tendangan aliran air lebih kuat sehingga bisa mencapai puncak tertinggi," ujarnya.
Namun, pembangunan booster tersebut membutuhkan anggaran hingga miliaran rupiah. Karena itu, PDAM belum dapat merealisasikan pembangunan fasilitas tersebut dalam waktu dekat.
Sebagai solusi sementara, PDAM Tirta Bukit Sulap telah menyuplai air bersih menggunakan mobil tangki kepada warga RT-01 Kelurahan Karya Bakti.
"Untuk sementara di wilayah RT-01, Kelurahan Karya Bakti kemarin sudah kami suplai air bersih melalui tangki secara gratis," jelasnya.
Meski demikian, suplai air menggunakan mobil tangki setiap hari dinilai tidak memungkinkan bagi PDAM. Hal itu lantaran kondisi keuangan perusahaan saat ini mengalami defisit.
"Kalau mau setiap hari kami PDAM tidak mampu karena ini menambah beban biaya operasional PDAM. Biaya operasional kami perbulan sekitar Rp 460 juta, namun uang yang masuk sekitar Rp 360 juta. Jadi masih minus Rp 100 juta perbulan," ungkapnya.
Kondisi keuangan tersebut juga berdampak terhadap pembayaran gaji pegawai. Suhada menyebut hingga kini gaji para pegawai PDAM belum dibayarkan selama empat bulan.
"Makanya pegawai kami sampai saat ini sudah empat bulan gaji mereka tidak dibayar," tuturnya.
Sebelumnya, ratusan KK di Kelurahan Karya Bakti, Lubuklinggau, mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Warga mengeluhkan air PDAM yang tidak lancar dan kerap mati sejak 2014.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga terpaksa mengambil air dari sumur umum. Bahkan, sebagian warga memilih sementara mengungsi ke rumah keluarga di kelurahan tetangga.
Salah satu sumber air yang menjadi andalan warga adalah Sumur Kembang yang berada di pinggir jalan. Banyaknya warga yang mengambil air di lokasi tersebut membuat mereka harus mengantre, bahkan hingga malam hari.
Warga berharap pemerintah daerah dan PDAM Tirta Bukit Sulap segera menemukan solusi permanen agar kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi. *
