LUBUKLINGGAU, LINTASSRIWIJAYA.COM - Ratusan kepala keluarga (KK) di Kelurahan Karya Bakti, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, mengalami krisis air bersih. Kondisi tersebut dipicu oleh aliran air PDAM yang tidak lancar dan sering mati sejak 2014.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga terpaksa mengambil air dari sumur umum atau mengungsi sementara ke rumah keluarga di kelurahan tetangga. Salah satu sumber air yang menjadi andalan warga adalah Sumur Kembang yang berada di pinggir jalan.
Namun, banyaknya warga yang datang untuk mengambil air membuat mereka harus mengantre, bahkan hingga malam hari.
Ketua RT 01 Kelurahan Karya Bakti, Bedu Patawari, mengatakan persoalan air bersih di wilayahnya telah berlangsung sejak sekitar 2014. Menurutnya, aliran air PDAM tidak lancar dan lebih sering mati.
"Ya, sudah lama PDAM ini nggak masuk ke daerah kami, mungkin sejak tahun 2014 masalah ini. Air PDAM ini kadang hidup, kadang mati, cuma banyak matinya sampai kekeringan kami," katanya, Kamis (3/9/2026).
Bedu menyebut Kelurahan Karya Bakti terdiri dari sembilan RT. Khusus di RT 01 terdapat sekitar 300 kepala keluarga (KK), sementara RT lainnya juga dihuni ratusan KK.
"Di Kelurahan Karya Bakti ada 9 RT. Di RT-01 saja ada sekitar 300 KK dan RT lain rata-rata ratusan KK-nya," ujarnya.
Bedu mengatakan persoalan air bersih di Kelurahan Karya Bakti tersebut sudah berulang kali disampaikan kepada pihak PDAM, termasuk dalam berbagai pertemuan dan kegiatan reses anggota dewan.
"Sudah sering kita laporkan ke PDAM dan setiap kali ada pertemuan atau reses selalu saya sampaikan masalah ini. Namun hingga saat ini masalah ini masih belum selesai," katanya.
Menurut Bedu, salah satu kemungkinan penyebab air PDAM sulit mengalir ke wilayahnya adalah debit air yang tidak mencukupi. Kondisi geografis Karya Bakti yang berada di dataran tinggi juga diduga menjadi salah satu kendala.
"Kemungkinan penyebabnya susah air masuk ke sini karena debit air PDAM tidak mencukupi sehingga tidak sampai ke kita, ditambah memang tempat kita daerah tinggi juga," jelasnya.
"Jadi sebenarnya tidak bisa juga kita menyalahkan seluruhnya ke PDAM, cuma kami minta tolong solusinya juga terkait masalah ini," sambungnya.
Sementara itu, salah seorang warga bernama Jamil mengaku persoalan tersebut telah berlangsung bertahun-tahun. Kondisi itu semakin parah saat musim kemarau karena sejumlah sumur warga ikut mengering.
"Sejak 2014 PDAM tidak mengalir di wilayah kita. Sekarang sumur juga kering karena musim kemarau, jadi kami kesulitan mendapatkan air bersih," katanya.
Menurut Jamil, kondisi geografis Karya Bakti yang berada di dataran tinggi juga menyulitkan warga mendapatkan air tanah. Saat menggali sumur, warga menemukan batu napal pada kedalaman sekitar 8 meter.
"Kalau menggali sumur sulit di wilayah kami. Baru sekitar delapan meter sudah ketemu batu napal, itupun harus digali lebih dalam lagi," ungkapnya.
Warga lainnya, Afandi, mengatakan dirinya setiap hari mengambil air dari Sumur Kembang karena tidak ada air yang mengalir di rumahnya. Dalam sehari, ia membawa sedikitnya enam jeriken untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, mulai dari mandi hingga minum.
"Air PDAM tidak pernah hidup di tempat saya. Jadi terpaksa ngambil air di sumur ini. Untuk mandi dan minum sehari itu setidaknya 6 jeriken. Banyak warga dari Mesat Seni, Mesat Jaya, dan Pasar Dempo yang mengambil air di sumur ini karena airnya bersih dan tidak bau. Karena daerah sana mati juga air PDAM-nya," ungkapnya.
Menurut Afandi, banyak warga yang datang untuk mengambil air di sumur tersebut. Bahkan, warga harus mengantre hingga tengah malam.
"Jam 12 malam itu masih banyak yang ngambil air di sini. Warga di sini masih antre untuk menunggu giliran ngunjal (mengangkat) air," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan warga Mesat Seni, Yadi. Ia mengaku kerap mengambil air dari sumur umum tersebut karena aliran PDAM di rumahnya sering tidak menyala.
"Sangat membantu sumur ini karena air PDAM sering tidak hidup di tempat saya. Jadi kami memanfaatkan air sumur ini. Sudah lama warga yang kekurangan air bersih mengambil di sumur ini, apalagi di musim kemarau," katanya.
Yadi bersama warga lainnya berharap Pemerintah Kota Lubuklinggau dan pihak PDAM segera mengevaluasi pelayanan air bersih di wilayah tersebut.
"Kami minta Pemkot dan PDAM Kota Lubuklinggau mengevaluasi. Sudah puluhan tahun Kelurahan Karya Bakti tidak dialiri air bersih," tuturnya. *
