Notification

×

Iklan

Advertisement

Tag Terpopuler

Cerita Rakyat Empat Lawang: Legenda Puyang Gadis Desa Kupang yang Melegenda Hingga Kini

Selasa, 07 Juli 2026 | Juli 07, 2026 WIB Last Updated 2026-07-08T00:10:59Z


Disclaimer

Artikel ini disusun berdasarkan cerita rakyat dan penuturan tokoh masyarakat Desa Kupang, Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang. Isi cerita merupakan bagian dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun dan tidak dimaksudkan sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi secara ilmiah.


DESA Kupang terletak di Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan. Kisah ini berasal dari Desa Kupang Lama yang dahulu berdiri di tepian sungai. Setelah sebuah peristiwa besar menimpa kampung tersebut, warga yang tersisa berusaha membangun kembali permukiman di sebelah timur dari kampung lama, dengan harapan menemukan kehidupan yang lebih tenteram dan damai.


Konon, nama Desa Kupang berasal dari banyaknya pohon kupang yang dahulu tumbuh subur di wilayah tersebut.


Pada masa itu hiduplah seorang gadis yang cantik jelita, menjadi buah bibir sekaligus pujaan banyak orang. Gadis itu bernama Siti Rohina, yang akrab dipanggil Siti Lam Jen'ah. Meski dikaruniai paras yang memesona, kehidupannya jauh dari kemewahan. Kedua orang tuanya telah lama meninggal dunia sehingga ia diasuh oleh kakak sulungnya, Abdul Amaran atau yang dikenal dengan sebutan Bujang Juaro.


Abdul Amaran dikenal sebagai lelaki sakti. Ilmu kebal yang dimilikinya serta kepiawaiannya dalam berbagai hal membuat namanya disegani banyak orang. Sementara itu, Siti Rohina justru dikenal karena kelembutan hati, kesopanan, dan ketulusannya. Kebaikannya tersiar hingga ke luar desa, membuat siapa pun yang mengenalnya menaruh rasa hormat dan kasih. Walaupun dianugerahi kecantikan yang luar biasa oleh Yang Maha Kuasa, ia tetap hidup dalam kerendahan hati.


Suatu hari, seperti biasanya, Siti Rohina bersama teman-temannya pergi ke sungai untuk mandi dan mencuci pakaian. Air sungai yang jernih dan sejuk membuat mereka larut dalam kebahagiaan hingga matahari mulai condong ke barat.


Saat hendak pulang, Siti Rohina baru menyadari bahwa Takuk Labu, tempat menyimpan perlengkapan mandinya, tertinggal di tepian sungai. Arus yang deras kemudian membawa takuk itu hanyut, mengalir mengikuti panjangnya Sungai Musi.


Hari demi hari berlalu. Takuk Labu itu terus hanyut hingga akhirnya tiba di wilayah Palembang. Pada saat yang sama, sebuah jung besar sedang melintas. Salah seorang juru mudi melihat benda yang terapung di atas air lalu mengambilnya untuk diserahkan kepada pemilik kapal.


Pemilik kapal itu ternyata adalah Sunan Palembang.


Rasa penasaran menyelimuti hati sang Sunan. Ia kemudian memanggil seorang ahli nujum untuk mengetahui asal-usul benda tersebut. Sang ahli nujum pun berkata bahwa benda itu adalah takuk milik seorang perempuan yang sangat cantik bernama Siti Rohina. Ia tinggal di hulu Sungai Musi bagian selatan, di sebuah desa yang dipenuhi pohon kupang. Meski terkenal akan kecantikannya, ia hanyalah seorang anak yatim piatu dari keluarga miskin.


Sejak saat itu, keinginan Sunan untuk bertemu pemilik Takuk Labu semakin besar. Ia pun memutuskan berlayar menuju Desa Kupang.


Kedatangan Sunan Palembang bersama rombongan pengawalnya membuat masyarakat Desa Kupang terkejut. Belum pernah mereka melihat perahu semegah itu berlabuh di kampung mereka.


Seorang utusan Sunan kemudian turun dan menanyakan keberadaan Siti Rohina. Warga yang sedang mencari ikan di sungai menunjukkan arah rumahnya.


Sesampainya di sana, mereka bertemu dengan Abdul Amaran. Sunan menjelaskan maksud kedatangannya, yakni mengembalikan Takuk Labu milik Siti Rohina yang hanyut hingga ke Palembang sekaligus ingin bertemu dengannya.


Abdul Amaran membenarkan bahwa takuk tersebut memang milik adiknya. Namun ia mengatakan bahwa Siti Rohina sedang nyamah, yakni menangkap ikan hanya dengan menggunakan tangan. Ia pun meminta Sunan agar kembali lagi tiga hari kemudian agar dapat bertemu dengan adiknya.


Sepeninggal rombongan Sunan, Abdul Amaran segera menemui Siti Rohina dan menceritakan seluruh kejadian itu.


Mendengar kabar tersebut, hati Siti Rohina dipenuhi kegelisahan. Ia takut kecantikannya justru menjadi petaka. Ia khawatir akan dijadikan selir karena perbedaan derajat, sementara dirinya hanyalah gadis miskin yang tidak memiliki apa-apa.


Dengan suara lirih, ia meminta kakaknya menyembunyikan dirinya bila Sunan datang kembali. Satu-satunya cara yang terpikir adalah menguburnya di dalam tanah agar tak seorang pun dapat menemukannya.


Tiga hari kemudian, Sunan Palembang kembali datang. Kali ini ia meninggalkan jung besarnya dan menggunakan perahu yang lebih kecil agar kedatangannya tidak menarik perhatian warga.


Namun seorang warga yang sedang mencari ikan melihat rombongan itu lalu bergegas memberi tahu Abdul Amaran.


Warga Desa Kupang pun berkumpul membantu menyembunyikan Siti Rohina ke dalam sebuah lubang yang telah dipersiapkan sebelumnya.


Karena waktu begitu mendesak, tanpa disadari Abdul Amaran lupa membuatkan lubang pernapasan dari bambu untuk adiknya.


Sesampainya di rumah, Sunan kembali menagih janji untuk dipertemukan dengan Siti Rohina. Abdul Amaran tetap menolak memberi tahu keberadaan sang adik.


Merasa dipermainkan, Sunan murka. Seluruh pengawal diperintahkan menyisir desa. Namun pencarian itu tidak membuahkan hasil.


Kemarahan Sunan memuncak. Abdul Amaran pun diperintahkan untuk ditangkap.


Pertempuran akhirnya tak terelakkan.


Dengan kesaktian yang dimilikinya, Abdul Amaran mampu menghadapi Sunan beserta para prajurit kerajaan. Setelah menyadari tidak akan mampu menangkapnya, Sunan akhirnya memilih kembali ke Palembang.


Keheningan pun menyelimuti Desa Kupang.


Di tengah kesunyian itu, Abdul Amaran tiba-tiba teringat akan kelalaiannya.


Dengan tergesa-gesa ia kembali menggali tanah tempat adiknya disembunyikan.


Namun yang ditemukannya hanyalah sehelai pakaian.


Siti Rohina telah tiada.


Abdul Amaran bersama warga desa mencari ke segala penjuru, memanggil namanya di tepian sungai, di antara pepohonan, hingga ke belantara. Namun tak seorang pun mampu menemukannya.


Hingga akhirnya terdengarlah suara gaib yang dipercaya berasal dari Siti Rohina.


"Jika kelak ada anak cucung kerabatku yang kecantikannya melebihi Aku, maka umurnya tidak akan panjang, supaya tidak akan terjadi lagi bencana seperti yang aku alami”.


Sejak saat itu, masyarakat Desa Kupang meyakini bahwa Siti Rohina telah menjelma menjadi Puyang Gadis.


Kebenaran sumpah tersebut dipercaya turun-temurun hingga sekarang. Konon, beberapa keturunannya yang memiliki paras sangat cantik meninggal dunia pada usia muda atau sebelum sempat menikah.


Hingga kini, makam atau tempat persembunyian Puyang Gadis yang berada di Desa Kupang Lama, berdampingan dengan makam Bujang Juaro dan kedua orang tuanya, masih sering diziarahi masyarakat.


Ada pula sebuah fenomena yang terus diceritakan dari generasi ke generasi. Setiap tahun, tanah makam Puyang Gadis dipercaya selalu bertambah tinggi beberapa sentimeter. Bagi masyarakat setempat, hal itu menjadi pertanda agar pesan dan kisah Puyang Gadis tidak pernah dilupakan oleh anak cucunya.


"Cerita di ambil dari sumber Tokoh masyarakat desa Kupang Tebing Tinggi Empat Lawang"


#PuyangGadis #CeritaRakyat #EmpatLawang #DesaKupang #LegendaSumsel #BudayaIndonesia #KearifanLokal #LintasSriwijaya

×
Berita Terbaru Update