LUBUKLINGGAU, LINTASSRIWIJAYA.COM - Sabtu (15/8/2026) menjadi hari bersejarah bagi siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Lubuklinggau, Khalyana Zahira Sandi.
Siswi kelas X tersebut mengikrarkan kesetiaannya setelah dikukuhkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, di Istana Negara.
Bersama 75 putra-putri terbaik bangsa dari 38 provinsi, Khalyana diperca
ya mengemban amanah sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Pusat Tahun 2026, mewakili Provinsi Sumatera Selatan.
Prestasi ini sekaligus menjadi catatan bersejarah bagi MAN 1 Lubuklinggau. Pasalnya, untuk pertama kalinya sejak Paskibra MAN 1 Lubuklinggau didirikan, seorang pelajarnya berhasil menembus Paskibraka tingkat pusat dan tampil di panggung tertinggi pengibaran Sang Saka Merah Putih di Istana Merdeka.
Bagi siswi kelahiran 2010 tersebut, menjadi Paskibraka merupakan cita-cita yang telah diidam-idamkannya sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Keinginan itu terus diasah saat SMP melalui berbagai kegiatan, mulai dari latihan baris-berbaris, gerak jalan, Peraturan Baris Berbaris (PBB), hingga Lomba Keterampilan Baris Berbaris (LKBB).
Kemampuan dan pengalamannya semakin matang saat melanjutkan pendidikan di MAN 1 Lubuklinggau. Kini, Khalyana juga termotivasi untuk menggapai cita-cita menjadi Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad).
“Jujur perasaannya sangat bangga karena Khalyana memang sudah bercita-cita menjadi Paskibraka sejak kecil. Alhamdulillah cita-cita itu akhirnya tercapai,” tutur Khalyana penuh syukur.
Gadis yang aktif di Tim Jurnalistik Laskar Madrasah dan Improv Art Community (IAC) itu menyebut perjalanan menuju Istana Negara bukanlah hal mudah.
Berbagai tahapan seleksi harus dilewati, mulai dari seleksi tingkat kota, penyaringan tingkat provinsi, hingga verifikasi tingkat pusat oleh BPIP.
“Saya sangat senang dan bangga karena usaha yang saya lakukan selama ini tidak mudah. Kadang ada hal-hal yang membuat saya down dan overthinking, apalagi mendengar omongan orang-orang yang pernah meremehkan saya. Namun dengan pencapaian ini, saya bisa membuktikan bahwa saya pantas mendapatkannya,” kata Khalyana mengenang momen kepastian kelolosannya pada 22 Juni 2026.
Di balik ketangguhan fisiknya, manajemen waktu menjadi salah satu kunci keberhasilan Khalyana.
Kesehariannya diisi dengan berbagai agenda, mulai dari menyelesaikan tugas sekolah, menjaga stamina melalui latihan fisik, hingga mempelajari berbagai materi pada malam hari.
Ia juga mempersiapkan diri menghadapi Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Inteligensia Umum (TIU), dan psikotes yang menjadi bagian dari proses seleksi.
Dukungan Orang Tua dan Tempaan Madrasah
Khalyana menyadari perjalanan menuju Paskibraka tingkat pusat tidak ditempuh seorang diri.
Dukungan keluarga dan lingkungan madrasah menjadi bagian penting dalam setiap proses yang ia jalani.
“Orang tua dan teman-teman terdekat memiliki peran yang sangat besar. Mereka selalu memberikan dukungan penuh dan menjadi penyemangat saya,” ungkap anak kedua dari pasangan Napyadi Alex Sandi dan Mery Laduana Fitriana ini.
Dukungan keluarga berpadu dengan pembinaan yang dilakukan di madrasah.
Pembina Paskibra MAN 1 Lubuklinggau, Fathul Qorib, menyebut kesinambungan pembinaan antargenerasi menjadi salah satu modal penting dalam mempersiapkan para siswa.
“Pengalaman para senior menjadi salah satu modal penting dalam proses pembinaan. Mereka memberikan gambaran mengenai tantangan seleksi sehingga adik-adik memiliki kesiapan fisik dan mental yang lebih baik,” jelasnya.
Rasa bangga juga disampaikan Kepala MAN 1 Lubuklinggau, Hedi Herdiana.
“Tentunya saya sebagai kepala MAN 1 Model Kota Lubuklinggau sangat bangga atas terpilihnya anak didik kami sebagai Paskibra tingkat nasional. Madrasah tentunya memberikan apresiasi atas pencapaian ini dan mudah-mudahan menjadi motivasi untuk anak didik lainnya,” ungkapnya.
Rasa haru juga dirasakan Mery Laduana, sang ibu.
Sebagai orang tua asal Desa Mandi Aur, Kabupaten Musi Rawas, melihat putrinya berdiri di panggung kenegaraan menjadi kebahagiaan tersendiri.
Sejak menjalani karantina pada 14 Juli 2026, rasa rindu keluarga semakin besar karena tidak dapat bertemu secara langsung.
Namun, kerinduan itu terbayar ketika Mery bersama suaminya tiba di Jakarta untuk menyaksikan langsung putrinya menjalankan tugas.
“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada MAN 1 Lubuklinggau dan Kementerian Agama yang telah membimbing anak kami. Madrasah ini adalah sekolah yang sangat kami percayai. Anak pertama kami juga lulusan sini, dan kini Khalyana kembali mengharumkan nama Lubuklinggau, Desa Mandi Aur, serta Sumatera Selatan,” puji Mery.
Menatap Sang Merah Putih di Istana Merdeka
Tidak hanya bangga karena mendapat kesempatan mengemban tugas sebagai Paskibraka tingkat pusat, Khalyana juga merasa bersyukur karena pengalaman tersebut mempertemukannya dengan pelajar dari berbagai suku dan daerah di Indonesia.
“Saya bisa bertemu teman-teman dari 38 provinsi. Banyak dari mereka yang kini menjadi teman baik, bahkan seperti saudara sendiri,” ucapnya bangga.
Menjelang Upacara Detik-Detik Proklamasi HUT ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, Khalyana membawa nama Lubuklinggau dan Sumatera Selatan dengan penuh kehormatan.
“Saya sangat bangga terlahir di Kota Lubuklinggau dan bisa membawa nama daerah ini hingga tingkat nasional,” pungkasnya penuh percaya diri.
Dari Desa Mandi Aur di Musi Rawas hingga panggung kenegaraan di Jakarta, perjalanan Khalyana menjadi bukti bahwa impian yang dirawat dengan ketekunan, kedisiplinan, dukungan keluarga, dan doa dapat mengantarkan seorang pelajar meraih prestasi di tingkat nasional. *
