Digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, kegiatan tersebut mengajak peserta menyusuri berbagai bangunan bersejarah, peninggalan perkeretaapian, hingga kawasan bekas pusat pemerintahan kolonial yang menjadi bagian dari identitas Kabupaten Lahat.
Sebelum memulai perjalanan, Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Lahat AKP Desi Azhari memberikan arahan mengenai keselamatan dan ketertiban berlalu lintas. Ia mengingatkan seluruh peserta agar mematuhi aturan lalu lintas selama kegiatan berlangsung. Desi diketahui baru dua hari menjabat sebagai Kasatlantas Polres Lahat.
Rombongan memulai perjalanan dari kawasan Car Free Day di sekitar Tugu Kolonel Barlian, Kelurahan Bandar Jaya. Peserta kemudian melintasi Jalan Kolonel Barlian hingga Jalan Letnan Alamsyah, Kelurahan Talang Jawa.
Perhentian pertama berada di pertigaan Masjid Al Mutaqim. Di lokasi tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai sejarah kawasan yang berdasarkan keterangan dalam kegiatan itu, dahulu merupakan area pemakaman masyarakat Tionghoa atau dikenal sebagai Kuburan Cina.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Bengkel Balai Yasa melalui Jalan Prof. Emil Salim. Bengkel yang telah beroperasi sejak 1931 tersebut menjadi salah satu peninggalan penting dalam sejarah perkeretaapian di Sumatera Selatan.
Dari sana, rombongan bergerak menuju Terowongan Gunung Gajah yang telah beroperasi sejak 1929. Terowongan tersebut menjadi bagian penting dari infrastruktur perkeretaapian sekaligus saksi perkembangan transportasi kereta api di wilayah Lahat.
Penelusuran sejarah dilanjutkan ke kompleks sekolah Santo Yosef, salah satu kawasan pendidikan bersejarah di Kota Lahat. SD Santo Yosef mulai beroperasi pada 1936, disusul SMP pada 1938 dan SMA pada 1967.
Sekolah tersebut turut mewarnai perjalanan pendidikan di Lahat dan melahirkan sejumlah tokoh daerah maupun nasional. Beberapa nama yang disebut dalam kegiatan ini antara lain Saifuddin Aswari, Bursah Zarnubi, Komjen Pol Susno Duadji, dan Sri Meliyana.
Rute berikutnya membawa peserta menyusuri kawasan yang dahulu menjadi pusat pemerintahan Afdeling Palembang Dataran Tinggi. Pada masa kolonial, Lahat memiliki peran administratif penting yang mencakup wilayah luas, termasuk sejumlah daerah yang kini menjadi bagian dari Kota Prabumulih, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Lahat, Kabupaten Empat Lawang, Kota Pagar Alam, Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas, dan Kabupaten Musi Rawas Utara.
Pusat pemerintahan pada masa itu berada di kawasan tepian Sungai Lematang. Pada era 1970-an hingga 1990-an, kawasan tersebut dikenal masyarakat sebagai Benteng.
Sejumlah bangunan peninggalan kolonial masih dapat dijumpai di kawasan tersebut. Salah satunya adalah rumah dinas Asisten Residen yang kemudian digunakan sebagai rumah dinas Bupati Lahat. Beberapa bangunan lama lainnya juga masih memperlihatkan gaya arsitektur Indies Style, yakni perpaduan unsur arsitektur Eropa dan lokal.
Sementara itu, bangunan bekas Kantor Asisten Residen yang pernah difungsikan sebagai Kantor Bupati Lahat telah digantikan bangunan baru yang kini digunakan sebagai Perpustakaan Daerah.
Penelusuran berlanjut ke Gereja Santa Maria yang selesai dibangun pada 1933. Bangunan tersebut masih mempertahankan bentuk aslinya dan menjadi salah satu peninggalan bersejarah di Kota Lahat.
Tidak jauh dari gereja, dahulu terdapat tiga bangunan kolonial bergaya Indies Style. Kini, hanya satu bangunan yang disebut masih bertahan, yakni rumah dinas Manajer PLN UP3 Lahat. Sementara itu, dua bangunan lainnya telah digantikan bangunan baru.
Setelah menyelesaikan rute penelusuran sejarah, rombongan mengakhiri perjalanan di Lapangan MTQ Lahat. Sepanjang kegiatan, peserta tidak hanya memperoleh manfaat olahraga, tetapi juga berkesempatan mengenal lebih dekat sejarah, perkembangan kota, serta bangunan-bangunan yang menjadi bagian dari identitas daerah.
Salah seorang peserta, Mirlan, menilai kegiatan tersebut menarik dan layak dijadikan agenda rutin.
“Mantap, keren gowes ini dan perlu dijadikan agenda rutin,” ujarnya.
Hal senada disampaikan AKP Irsan Rumsi. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi kesehatan sekaligus menambah wawasan mengenai sejarah daerah.
“Alhamdulillah, gowes sehat, menyenangkan, dan mendapat pengetahuan tentang sejarah Kota Lahat,” katanya.
Sementara itu, Yasher menilai Lahat Historical Bike memiliki banyak manfaat positif. Selain menjaga kesehatan dan mempererat silaturahmi antarkomunitas, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan peninggalan sejarah lokal serta menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan terhadap Kota Lahat.
Lahat Historical Bike digagas Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Panoramic of Lahat bersama Masyarakat Sejarawan Indonesia Kabupaten Lahat serta sejumlah komunitas sepeda di Lahat.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan semakin mengenal kekayaan sejarah daerah sekaligus ikut menjaga dan melestarikan bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang Kabupaten Lahat. *
