Wali Kota yang akrab disapa Yoppy Karim tersebut menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya miskomunikasi terkait pemberian bonus atlet. Ia menegaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuk Linggau tetap menghargai perjuangan dan prestasi atlet disabilitas yang telah mengharumkan nama daerah.
Permohonan maaf itu disampaikan Yoppy kepada wartawan, Rabu (4/11/2026). Ia mengakui, persoalan yang berkembang menjadi perbincangan di media sosial tersebut harus menjadi bahan evaluasi, khususnya dalam membangun komunikasi antara pemerintah dan insan olahraga.
“Terkait atlet NPCI ini, saya mohon maaf karena tidak sesuai dengan yang diharapkan. Saya tidak pernah mengabaikan prestasi mereka. Yang jelas, ini miskomunikasi,” ungkap Yoppy.
Ia menjelaskan, belum tersedianya anggaran bonus dalam APBD induk bukan berarti pemerintah tidak memberikan perhatian kepada atlet. Keterbatasan kemampuan keuangan daerah serta kebijakan efisiensi anggaran menjadi pertimbangan utama dalam pengalokasian dana tersebut.
Meski demikian, Pemkot Lubuk Linggau terus mengupayakan agar anggaran penghargaan bagi atlet berprestasi dapat dialokasikan melalui APBD Perubahan (APBD-P) 2026.
“Karena kemampuan postur APBD kita belum mampu, tetapi seiring proses berjalan, anggaran bertambah sehingga baru bisa dianggarkan di perubahan. Bonus ini untuk atlet NPCI maupun cabang olahraga di bawah KONI,” jelasnya.
Yoppy juga memaparkan kronologi penyerahan bonus yang sebelumnya menjadi sorotan. Kegiatan tersebut dilaksanakan setelah rapat paripurna, bertepatan dengan selesainya proses pengadaan seragam gratis pada akhir Oktober.
Saat itu, APBD Perubahan masih dalam tahap evaluasi. Setelah dipastikan anggaran dapat digunakan untuk pemberian bonus atlet, Pemkot kemudian berkoordinasi dengan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), serta NPCI.
Menurutnya, penyerahan seragam gratis dan bonus atlet akhirnya dilaksanakan dalam satu rangkaian kegiatan.
“Setelah keluar hasil evaluasi, sempat ditanyakan apakah anggaran tersebut bisa digunakan untuk bonus atlet. Ternyata bisa. Kemudian minggu berikutnya baru direalisasikan. Kami koordinasikan dengan Dispora, lalu mengundang KONI dan NPCI untuk pemberian bonus atlet. Akhirnya kegiatan itu dibuat sekaligus,” bebernya.
Di sisi lain, Yoppy mengakui masih terdapat kekurangan dalam pengemasan acara. Menurutnya, kegiatan tersebut semestinya dikomunikasikan secara lebih jelas kepada publik sebagai agenda penyerahan seragam gratis sekaligus pemberian bonus bagi atlet berprestasi.
“Kesalahannya mungkin dalam pengemasan acara. Seharusnya kegiatan itu dikemas untuk keseluruhan. Bukan hanya pembagian seragam gratis. Di baliho seharusnya tertulis penyerahan seragam gratis dan pemberian bonus untuk atlet berprestasi,” tegasnya.
Lebih jauh, Yoppy menegaskan bahwa atlet penyandang disabilitas memiliki tempat dan perhatian yang sama dalam pembangunan olahraga di Kota Lubuk Linggau.
Ia mengaku sebagai pencinta olahraga dan berharap seluruh atlet tanpa terkecuali mendapatkan kesempatan untuk berkembang serta memperoleh penghargaan atas perjuangan dan prestasi yang diraih.
“Saya ini pencinta olahraga dan sangat perhatian, apalagi dengan teman-teman disabilitas. Dari awal kami dilantik, kami sudah memberdayakan teman-teman disabilitas,” ujarnya.
Terkait keluhan yang lebih dahulu mencuat melalui media sosial, Yoppy berharap ke depan komunikasi langsung dapat lebih dikedepankan. Dengan demikian, setiap persoalan dapat dibicarakan dan dicarikan solusi bersama tanpa menimbulkan kesalahpahaman.
“Yang disayangkan itu curhatnya di media sosial. Seharusnya bisa audiensi, sehingga persoalan seperti ini bisa kita komunikasikan dan cari jalan keluarnya bersama,” katanya.
Mengenai besaran bonus, Yoppy tidak menampik bahwa nominal yang diberikan tahun ini lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut merupakan dampak penyesuaian kemampuan keuangan daerah dan kebijakan efisiensi anggaran.
Namun, ia menegaskan bahwa perbedaan nominal bonus tidak boleh dimaknai sebagai berkurangnya penghargaan pemerintah terhadap prestasi atlet.
“Ketika menyampaikan sambutan, saya juga sudah menyampaikan permohonan maaf karena bonus atlet kali ini tidak sebesar sebelumnya. Ini karena kondisi efisiensi anggaran. Jadi, bukan berarti prestasi mereka tidak dihargai, tetapi disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah,” jelasnya.
Yoppy memastikan penyaluran bonus bagi atlet berprestasi, baik dari NPCI maupun cabang olahraga di bawah naungan KONI, mulai dilakukan pada pekan ini.
Ia berharap polemik tersebut menjadi momentum untuk memperbaiki komunikasi sekaligus meningkatkan perhatian terhadap seluruh atlet, termasuk penyandang disabilitas.
Sebab, di balik setiap prestasi terdapat perjuangan, kerja keras, dan pengorbanan yang layak mendapatkan penghargaan. Kesempatan dan pengakuan yang setara menjadi bagian penting untuk menjaga semangat atlet disabilitas agar terus berprestasi dan mengharumkan nama Kota Lubuk Linggau. *
