Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban diketahui bernama Perdi Eriansyah (33), warga Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatera Selatan.
Penemuan jasad tersebut bermula sekitar pukul 06.00 WIB. Saat itu, seorang saksi bernama Viya Oktaviani sedang berolahraga jogging bersama ibunya di sekitar halaman Taman Budaya.
Ketika melintas di lokasi, saksi melihat seorang pria tergeletak dalam posisi tengkurap. Setelah didekati, saksi mendapati wajah korban tampak pucat, tidak bergerak, serta mulutnya mengeluarkan busa.
Terkejut melihat kondisi tersebut, Viya segera melaporkan temuannya kepada Syahrozi, petugas keamanan setempat, serta Iwan Setiawan selaku Ketua RW 2. Laporan kemudian diteruskan kepada aparat kepolisian.
Sementara itu, berdasarkan keterangan Syahrozi, korban sempat terlihat masih hidup sekitar pukul 01.00 WIB dalam posisi telentang. Saat itu, korban terdengar mendengkur.
Menjelang pukul 05.00 WIB, petugas keamanan tersebut kembali melihat posisi korban telah berubah. Namun, ia mengira korban hanya sedang tidur atau dalam kondisi mabuk.
Baru setelah mendapat laporan dari warga pada pagi hari, saksi menyadari bahwa pria tersebut ternyata sudah meninggal dunia.
"Jam 5 itu memang aku lihat dia posisinya seperti itu (tengkurap), namun kukira orang mabuk. Terus diberitahu lah pagi-pagi sama ibu-ibu (saksi) itu, korban wajahnya pucat, ternyata sudah meninggal," ungkap Syahrozi di lokasi kejadian.
Mendapat laporan tersebut, petugas gabungan dari Tim Inafis Polresta Bengkulu dan Polsek Gading Cempaka langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan olah TKP dan mengumpulkan barang bukti.
Dari lokasi kejadian, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya satu botol berisi cairan yang diduga racun rumput serta satu unit telepon genggam merek Oppo berwarna hitam beserta pengisi daya (charger). Barang-barang tersebut ditemukan dalam kondisi berlumuran cairan berwarna hijau.
Selanjutnya, untuk kepentingan penyelidikan dan pemeriksaan medis lebih lanjut, jenazah korban dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Bengkulu.
Hingga kini, penyebab pasti kematian korban masih memerlukan kepastian dari hasil pemeriksaan pihak berwenang. *
