Notification

×

Iklan

Advertisement

Tag Terpopuler

BPH Migas Respons Kematian Sopir saat Antre BBM di Banyuasin, Kuota Subsidi Akan Dievaluasi

Jumat, 10 Juli 2026 | Juli 10, 2026 WIB Last Updated 2026-07-10T23:33:30Z


BANYUASIN, LINTASSRIWIJAYA.COM – Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Hasbi Ansori, menyampaikan duka cita atas meninggalnya seorang pengemudi truk saat mengantre bahan bakar minyak (BBM) di salah satu SPBU di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.


Hasbi mengatakan BPH Migas turut prihatin atas peristiwa tersebut dan berharap keluarga korban diberikan ketabahan.


"Pertama, kami turut berduka cita atas meninggalnya korban," kata Hasbi, Jumat (10/7/2026).


Menurut Hasbi, kasus meninggalnya sopir truk saat mengantre BBM sepenuhnya menjadi kewenangan aparat penegak hukum untuk menyelidiki penyebab kejadian serta mengambil langkah sesuai ketentuan yang berlaku.


"Kedua, terkait peristiwa itu merupakan kewenangan aparat penegak hukum," ujarnya.


Untuk mengatasi persoalan antrean BBM, BPH Migas berjanji akan melakukan evaluasi terhadap kuota BBM subsidi di wilayah Sumatera Selatan. Namun, evaluasi tersebut akan diawali dengan proses verifikasi kebutuhan serta kapasitas penyaluran di lapangan.


"Kapasitas penyaluran setiap SPBU berbeda-beda tergantung jumlah nozel, kapasitas tangki penyimpanan, dan waktu pengisian per kendaraan," jelasnya.


Ia mencontohkan, satu kendaraan membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam menit untuk mengisi 50 liter solar subsidi. Dengan kondisi tersebut, setiap SPBU memiliki batas kemampuan dalam melayani antrean kendaraan setiap harinya.


Karena itu, BPH Migas menilai penambahan kuota harus dibarengi dengan evaluasi kemampuan distribusi di tingkat SPBU agar subsidi BBM benar-benar tersalurkan kepada masyarakat yang berhak serta tidak menimbulkan potensi penyimpangan.


"Kalau SPBU tidak cukup, gimana mau menyalurkan. Jika dikasih kuota satu juta kiloliter (KL), juga percuma kalau SPBU-nya gak cukup. Tetapi saya gak bisa komentar soal Sumsel kekurangan SPBU," bebernya.


Sebelumnya, seorang pengemudi truk dilaporkan meninggal dunia saat mengantre BBM di salah satu SPBU di Kabupaten Banyuasin pada Senin (29/6/2026). Peristiwa itu terjadi di tengah antrean panjang kendaraan yang masih berlangsung di sejumlah daerah di Sumatera Selatan akibat keterbatasan pasokan dan tingginya permintaan BBM subsidi.


Kondisi tersebut menambah keprihatinan karena persoalan antrean BBM telah berlangsung selama berbulan-bulan. DPP Organisasi Angkutan Darat (Organda) menilai antrean panjang solar subsidi kini telah mengancam keselamatan pengemudi sekaligus mengganggu layanan transportasi umum.


"Meninggal dunia memang menjadi takdir seseorang, tetapi meninggal saat mengantre BBM karena kelelahan seharusnya tidak perlu terjadi. Kondisi ini juga berpotensi memicu kecelakaan karena pengemudi kurang istirahat setelah mengantre berjam-jam," ungkap Sekjen DPP Organda, Kurnia Lesani Adnan.


Adnan menjelaskan, dampak kelangkaan BBM subsidi juga mulai dirasakan masyarakat pengguna transportasi umum. Banyak armada angkutan dan bus mengalami keterlambatan keberangkatan karena harus mengantre solar di SPBU tanpa kepastian waktu.


Tak sedikit kendaraan yang telah mengantre berjam-jam hingga mencapai dispenser pengisian, namun tidak bisa mendapatkan BBM karena stok keburu habis. Kondisi tersebut, kata dia, mengganggu operasional perusahaan angkutan dan pelayanan kepada penumpang.


"Awak kendaraan harus mengantre BBM berjam-jam bahkan semalaman di SPBU Pertamina," jelasnya.


#BPHMigas #BBMSubsidi #SolarSubsidi #Banyuasin #Sumsel #SPBU #AntreBBM #Pertamina #Organda #LintasSriwijaya

×
Berita Terbaru Update